« Kembali ke Beranda

Peti Impian Pembawa Sial

✍️ Administrator Web 🗓️ 12 May 2026


Karya: Weda Arumwinarni

Ada seorang laki-laki berumur sekitar 90 tahun, berambut hitam sedikit beruban, meskipun kulitnya sudah keriput tetapi masih kelihatan gagah perkasa layaknya pemuda berusia 40 tahun Warga dusun Kemiri menyebutkan Mbah Kuat. Ia hidup sebatang kara.Sikapnya ramah dan baik hati sehingga dia disukai tetangganya. Dia salah satu sesepuh dusun yang sangat dihormati oleh warga. Pekerjaannya sehari-hari membuat peti. Dia sangat rajin. Setiap pagi ia pergi ke hutan untuk mencari kayu glondongan sebagai bahan membuat peti.

Suatu hari Mbah Kuat kepingin membuat peti istimewa. Terlintas dipikirannya untuk membuat peti dari kayu nangka di hutan. Kayu nangka memang terkenal sebagai kayu yang kuat dan mengkilap, tentu sangat bagus dan indah apalagi jika ditambah ukiran.

"Akan aku coba bicarakan dulu dengan teman-teman" Mbah Kuat dalam hati. Ia pun segera berangkat bekerja dengan penuh.

"Mbah, kenapa engkau tersenyum-senyum sendiri seperti orang edan?" kata kata Pak Boni.

"Weh, ladalah! Orang tua kok dibilang edan. Kamu itu nggak sopan, Bon," kata Mbah kuat sambil menatap wajah Pak Boni.

"Habis kenapa dong Mbah, kok senyum-senyum begitu?"lanjut Pak Boni ingin tahu apa yang ada di pikiran Mbah Kuat.

"Begini lho ceritanya...," kata Mbah kuat. Pak Boni pun mendengarkan cerita Mbah Kuat sambil manggut-manggut.

"O..ide bagus, Mbah. Pasti akan banyak yang order peti," kata Pak Min seakan memberikan dukungan dengan ide Mbah Kuat.

Setelah berembug, akhirnya mereka bertiga berangkat ke hutan untuk mencari kayu nangka tua.

Mereka bertiga berjalan menyusuri hutan. Matahari sudah tepat di atas kepala, namun mereka belum menemukan kayu seperti yang dimaksud Mbah Kuat.

Hari semakin malam. Ketegangan dan ketakutan timbul di hati mereka. Hutan semakin mencekam pohon-pohon serasa bergerak mengikuti langkah mereka dan binatang buas pun mengawasi langkah mereka menuju ke tepi hutan seakan hendak menerkam dari segala arah. Kaki mereka pun bergetar.

"Ayo kita mulai cari lagi kayu untuk membuat peti," ajak mbah kuat.

"Ah, hari sudah malam ayo kita pulang saja," seru Pak Boni yang mulai ketakutan.

"Hahaha kamu ini masih muda kok penakut," kata Mbah kuat meyakinkan teman-temannya untuk terus berjalan mencari kayu yang diinginkan.

"Terserah Mbah kuat mau bilang apa. Pokoknya aku mau pulang, "jawab Pak Boni.

"Gimana Pak Min, mau ikut terus mencari kayu atau mau ikut aku pulang?" kata Pak Boni.

"Ih serem, sepertinya aku ikut pulang kamu saja Pak Boni!" sahut Pak Min.

"Ya, sana!"kata Mbah Kuat.

Pak Boni dan Pak Min pun segera berlari menuju ke tepi hutan sambil menyalakan obor yang sudah mereka siapkan dari rumah meninggalkan bahwa sendirian di dalam hutan.

Sebenarnya bahwa sendiri sudah merasa ketakutan tetapi dia berusaha memendamnya dalam-dalam karena dia ingin mewujudkan impiannya untuk membuat sebuah peti istimewa. Dalam kesendiriannya itulah Mbah kuat mulai berjalan menyusuri hutan. Sampailah dia di sebuah sungai kecil di dalam hutan Gemericik air sungai semakin menambah seramnya suasana malam itu. Belum sempat Mbah Kuat menata hati menyingkirkan rasa takutnya, tiba-tiba terdengar ada sesuatu yang jatuh di sungai itu.

"Bruk...derr.."

"Apaan itu?" tanya Mbah kuat dalam hati.

Dengan penuh rasa penasaran bahwa pun segera mendekati sumber suara itu. Dia berusaha mengangkat obornya dan melongok ke sungai. Dia melihat ada sebuah peti emas di pinggir sungai.

"Wah, kebetulan sekali aku ingin membuat sebuah peti malah menemukan peti emas ini namanya anugrah!"seru nggak kuat dalam hati.

Mbah kuat berusaha untuk menarik peti itu ke darat tetapi dia tidak bisa ternyata ada sebuah tali kuat yang mengikat peti itu. Dengan cekatan bahwa pun segera memutus tali dengan barang yang dia bawa.

Tiba-tiba tanah yang dia pijak bergetar sangat keras dan dari dalam peti itu keluar asap putih membumbung tinggi. Udah kuat semakin takut iya tak punya kekuatan lagi untuk mendekati seperti itu. Setelah ditunggu beberapa lama tiba-tiba muncul sesosok makhluk yang sangat menyeramkan. Tubuhnya tinggi besar, giginya runcing seperti jarum, dan matanya merah. Mbah Kuat belum pernah melihat makhluk seperti itu. Nyalinya semakin ciut ya perasa berada di ujung ambang kematian. Gigi makhluk itu sangat runcing seakan siap menerkam dirinya.

"Ha...ha...ha. hei manusia siapa namamu?"tanya makhluk menyeramkan itu.

"A..a....aku adalah seorang pedagang peti," jawab Mbah Kuat.

"Siapa kau?" kata Mbah Kuat balik bertanya.

"Hah...kamu mau tahu siapa aku?" Jawab makhluk seram itu sambil menatap tajam wajah Mbah Kuat.

"Hai kakek tua, ketahuilah aku adalah Raja Jin penunggu hutan ini.Kakek lihatlah, tubuhmu sudah bau tanah. Ajalmu sudah dekat," kata Jin si makhluk menyeramkan itu.

"Apa maksudmu? Bukankah aku sudah menolongmu? Apakah ini yang dinamakan balas Budi?" kata Mbah Kuat

"Iya aku tahu kamu sudah menolongku. Sekitar 100 tahun yang lalu ada lomba kekuatan antara jin. Bila kalah maka siapapun harus menyerahkan harta dan pangkatnya dan harus dikurung di sebuah peti emas yang sangat tua dan terikat oleh tali yang sangat kuat. Dalam lomba itu aku kalah dan akhirnya aku harus masuk ke dalam peti itu. Awalnya aku berjanji siapapun yang bisa menolongku mengeluarkan aku dari seperti ini maka semua permintaannya akan aku kabulkan. Setelah 50 tahun aku terkurung di dalam peti ini, ternyata tak ada seorang pun yang menolongku. Aku mulai putus asa. Aku pun mengubah janjiku. Aku berjanji siapapun yang menolongku, melepaskan aku dari peti ini maka aku berjanji akan membunuhnya."kata Jin itu.

"Hai manusia, bersiaplah!" seru Jin itu kepada Mbah Kuat.

"Ya, Tuhan. Apakah aku harus mati di sini malam ini?" kata Mbah Kuat. Ia pun segera berpikir sejenak.

"Hemm, kalau aku harus mati di tanganmu malam ini, aku ikhlas. Aku ingin tahu, mengapa makhluk sebesar kamu bisa masuk ke dalam peti kekecil itu. Aku ingin bukti," kata Mbah Kuat.

"Baiklah akan aku buktikan," jawab Jin itu. Dalam sekejam mata, sudah masuk kembali ke peti emas itu. Lalu Mbah Kuat pun segera menutup kembali petinya.

"Tolong tolong keluarkan aku dari peti sial ini" seru Jin dari dalam peti yang telah terkunci.

"Maaf, aku tak akan menolong mu lagi. Kamu makhluk gak punya rasa terima kasih," jawab Mbah Kuat sambil meninggalkan peti itu.

Hari sudah menjelang pagi. Mbah Kuat segera bergegas kembali ke rumah. Dalam hati, Mbah Kuat bersyukur kepada Tuhan karena ia bisa terlepas dari maut yang mengancamnya.

Peti impian Mbah Kuat pun hanya menjadi sebuah angan-angan yang tidak akan ia wujudkan karena ia tidak ingin peti buatannya nanti akan membawa kesialan baginya.